Senin, 19 Juli 2010

Lil' from My novel : Trace of Edellweiss

Use ur earphone and play this song ;) . trust me , if you have a delicated heart, you'll cry. :')
Malam ini, adalah malam valentine. Edward dan Clarissa sudah berjanji bertemu di restoran tepi pantai, favorit mereka berdua. Setelah beberapa waktu Edward menunggu, akhirnya Clarissa sampai di restoran.
"Sayang..". sapa Clarissa lembut.
Edward berdiri memandang ke arah pantai dengan kedua tangan disakunya, langsung berbalik badan, "Clarissa?Kenapa kamu lama sekali, sih?".
Clarissa hanya tersenyum kecil, "Tadi aku gak diantar sama bang Donny, jadinya aku naik taxi dan ditambah terjebak macet di jalan. Maaf ya.. buat kamu jadi menunggu lama..".
"Ya, udah.. gpp.. kamu duduk sekarang, biar kita pesan makanan ya..?". Edward membukakan kursi untuk Clarissa. Clarissa mengangguk pelan dan duduk. Pandangan matanya tak lepas dari Edward sedari tadi. Ada perasaan sedih yang teramat dalam dihatinya.
"Hari ini indah ya.. lihat langit disana.. warnanya biru tua dan anginnya juga sangat terasa sejuk..". Edward tersenyum seraya memandangi ke langit dan sekitarnya.
Clarissa mengangguk setuju dan ikut tersenyum. "Iya sayang.. jarang-jarang yah, pantai ini terlihat teduh seperti ini..".
"Hehe.. mungkin Karena ini valentine pertama kita.. Aku seneng banget deh! baru kali ini , aku ngerasain apa hebatnya hari valentine itu.. valentine bersama seorang wanita yang sangat aku cintai...". Edward memegang erat tangan Clarissa.
Airmata yang sudah ditahan Clarissa, akhirnya tertumpah.
"Loh, Cla.. ?? kamu kok nangis, sayang??". Edward mengernyit heran dan menghapus airmata di pipi Clarissa.
"Gak.. cuma terharu aja..". Clarissa memegang erat tangan Edward yang menghapus airmatanya. Seketika itu juga, handphone Edward berdering. Clarissa semakin erat memegang tangan Edward, "Aku sayang kamu, Edward....". lirih Clarissa. Edward menatap wajah Clarissa, tersirat satu kesedihan , namun ia tak tahu apa.
Handphonenya terus berdering, "Sebentar ya, sayang.. sebentar aja..". Edward menjauh sebentar dan menjawab panggilan masuknya. "Ya, Nay??" .
"Ward!!! Buruan lo kesini!! CLARISSA KECELAKAAN!!!!".
Jantung Edward berdetak sangat kencang, perasaan takut meliputinya "Eh, Gilak lo!!! Clarissa disini, Bego!!!".
"SUMPAH demi TUHAN, ward!! Lo buruan kesini, di perempatan jalan restoran lo yang biasa!!". isak Naysilla, sahabat karib Edward dan Clarissa.
"Nay, Clarissa di....si........". Edward menoleh , hendak melihat Clarissa yang duduk di meja makan , "Loh mana dia?!?!". Kaget Edward.
"Halo..... haloo, Ward!! Buruan!! Gue gak bercanda! Sumpah! Cepat, Edward!! Gue gak tahan lihat dia!!". tangis Naysilla semakin menjadi.
Dengan berjuta kebingungan di dalam benaknya, Ia pun mengikuti apa yang dikatakan oleh Naysilla. Ia langsung berlari menuju perempatan jalan. Dan sesampainya disana, Edward melihat kerumunan orang-orang di tengah jalan. Perasaan takut itu, semakin menjadi-jadi, Keringat bercucuran di wajahnya Edward.
Naysilla yang melihat Edward, langsung menariknya dan menembus kerumunan orang-orang.
"Lihat, ward!! Lihat!! itu Clarissa!!!".
Edward terasa tersambar petir ribuan volt, lututnya terasa lemas dan ia tersungkur ke lantai. "Enggak... gak... ini bukan Clarissa!!". Edward tersenyum pahit.
"Ini, Clarissa.. , Edward!!!!". isak Naysilla.
Edward mendekat ke tubuh Clarissa , tangan kanannya menggengam bunga Edelweiss, "Sayang.. kamu kok disini? tadi kita kan ada di restoran..". Edward membelai lembut wajah Clarissa, butir-butir airmatanya mengalir. "Jangan bercanda, Clarissa... bangun sayang....".
Clarissa juga tak memberi respon, Ia hanya diam dengan wajahnya yang terlihat sangat pucat.
Edward mulai menangis, Ia baru ingat, mengapa semua orang yang berada di restoran tadi, melihatnya dengan pandangan aneh. Ia terlihat bicara sendiri, senyum sendiri.. hanya dia yang bisa melihat Clarissa disana.
Edward memandang kalung yang berliontin setengah hati, pemberian darinya beberapa bulan lalu, dan semakin meyakinkan dirinya, kalau itu memang Clarissa. "Clarissa! bangun Cla...!! jangan tinggalkan aku!!". Edward menguncang tubuh Clarissa yang telah terbujur kaku. "Claaarissaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa......!!!!!!!". histeris Edward.
Naysilla menepuk-nepuk punggung Edward, berusaha menenangkan kepanikan Edward.
"Sayang... bangun! jangan tinggalin aku secepat ini....". airmata Edward terus mengalir deras dari sudut matanya. Ia tak lagi memperdulikan keadaan dirinya, yang sudah acak-acakan, serta jas putihnya, sudah bersimbah darah dari kepalanya, Clarissa.
Naysilla pun tak bisa berkata apa-apa, ia hanya bisa duduk terdiam memandangi Clarissa. Ia juga telah kehilangan satu-satunya sahabat yang disayanginya.
"Tadi, sekitar setengah jam lalu, sebuah sedan silver yang mengebut kencang, menabraknya hingga terhempas 5 meter..". ujar salah seorang dari kerumunan itu.
"Kenapa, bapak tidak mencegahnya?!!!!!". Teriak Edward emosi.
"Gimana saya , mau menolong ! Saya kalah cepat dan kalah kencangnya suara sama sedan itu!".
"BODOOOH!!!!!". Edward berteriak ke arah laki-laki tua itu.
"Edward!! Lo gak bisa , salahin bapak tua itu!!". seru Naysilla.
"Clarissa, maafin aku...andai aja, aku gak ajak kamu keluar!! pasti kamu gak akan begini!!! maafin aku, sayang....maafiinnn........". Edward memeluk tubuh Clarissa erat.

"Ayo, Clarissa...". sebuah suara lembut memanggil nama Clarissa , Clarissa yang sedang menangis dan memeluk Edward dari belakang, menyipitkan matanya.. sebuah sinar yang berkilau menghalau pandangannya.
"Ta..tapi...".
"Ayo, kita harus pergi....". perempuan cantik yang bersayap itu, mengulurkan tangannya.
Clarissa beranjak dan berjalan menuju wanita bersayap itu, dan menyambut tangannya. Sambil menangis menatap Edward dan Naysilla yang sedang menangisi jasadnya, Mereka berdua terbang perlahan ke atas, masuk ke dalam kereta kencana yang indah dan terbang sampai menghilang di balik langit malam.
---
Sejak kejadian itu, Edward depresi berat. Ia sangat membenci hari valentine dan akan diingatnya sebagai valentine berdarah. Ia tak mau melakukan apapun dan tak ingin ditemui siapa-siapa, ia hanya diam dan mengunci dirinya di dalam kamar lalu duduk di sudut ruangan, mematikan lampu ruangan kamarnya.
Waktu terus berjalan, Edward tetap diam di dalam kebisuaanya, kehilangan ini terasa sangat dashyat dan menyakitkan untuknya. Dia selalu menyalahkan dirinya, karena Ialah Clarissa sampai meninggal. Rela keluar di sore hari, padahal jam segitu, ia tak diijinkan lagi keluar oleh orang tuanya.
Keluarga Edward, tak bisa berbuat apa-apa.. melihat anak mereka satu-satunya yang depresi berat. Edward semakin kurus dan terlihat sangat lemah kondisinya.

"Edward...".
Edward tersentak, dan melihat ke sekelilingnya. "Clarissa? Clarisaa...?!?!". Edward berdiri dan melihat kembali ke sekitarnya.
Clarissa menampakkan dirinya, bajunya putih panjang, bersinar dan berkilau, menyilaukan pandangan Edward.
"Maafin aku ya.. karena aku, kamu jadi begini..".
"Enggak! Ini bukan salah kamu! Aku yang salah! Maafkan aku, Clarissa....". airmata Edward mengalir.
Clarissa mendekat ke arah Edward, "Kamu, jangan terus menangisi aku, Edward... tangisanmu itu terdengar olehku, dan itu sangat menyakitkan aku.. Aku udah bahagia disana.. dan kamu gak perlu menyiksa diri kamu seperti ini...". Clarissa menghapus airmata Edward. Edward langsung memeluk erat Clarissa.. sangat erat. Kerinduannya ingin mendekap tubuh Clarissa, membuat perasaan Edward menjadi sangat tenang dan bahagia.
"Peluklah aku, sepuas hatimu...". Clarissa membelai rambut Edward. "Dan dengarkanlah aku...".

Sinar matamu menjadi penerang gelapku..
meski Airmatamu menghanyutkan senyumanku..
Jangan menangis, sayang...
Aku hanya pergi saja , bukan meninggalkanmu selamanya..

Cahaya mulai kelihatan redup di ujung mata
Mimpi dan anganku berhembus berarak pelan
Kerinduanmu menjadi kereta pengantar
dan Cintamu memimpin jalanku pergi

Waktuku untuk pergi dan tinggal di balik awan
Memasang sayap dan Menyentuh langit
Doa serta harapanmu, bergema di sepanjang perjalananku
Meringankan sedikit perasaanku yang pergi meninggalkanmu

Aku takkan tidur, karena aku akan selalu memperhatikanmu
Aku takkan menjauh, karena aku akan selalu dihatimu
Aku takkan menangis, karena aku ingin kau selalu tersenyum dan tertawa

Aku akan menunggu di gerbang surga, lalu menyambut lembut kedua tanganmu
Rangkailah cinta kita , menjadi tangganya
dan kita akan berbahagia bersama di dalam rumah Bapa yang baka..

Clarissa melepas pelukan Edward dan mencium lembut tulang pelipis Edward. Airmatanya terjatuh dan mengalir di pipi Edward.. dengan perlahan diikuti bayangannya yang memudar.
---


Edward tersadar dari mimpinya dan berteriak memanggil-manggil Clarissa. "Clarissa...claa!!". Edward mencari kesana-sini di ruangan kamarnya, namun ia hanya menemukan setangkai bunga Edelweiss putih.
"Clarisaa....". isak Edward seraya mencium bunga indah itu.

Sejak bertemu di dalam mimpi itu, Edward merasa pulih. Ia mulai bersemangat lagi menjalani harinya. Bunga Edelweiss itu, selalu di dalam sakunya, kemanapun ia pergi.
"Aku percaya, cinta dan rohmu ikut di dalam bunga kesukaanmu ini, Clarissa...".batinnya setiap kali ia memandang bunga itu.

Bulan berganti bulan, Tahun berganti tahun.. Hari Valentine, sudah mulai bisa dimaafkan olehnya.. dan Edward bersekolah tinggi, tamat dan mendapat gelar hebat. Dia menjadi orang yang terkenal, namun tak mau menikah, Ia tetap memilih sendiri dan tetap setia dengan Clarissa. Padahal begitu banyak wanita yang memujanya dan bersaing untuk mendapatkan Edward.


Sampai akhirnya kini, ia telah menjadi tua, renta dan sakit-sakitan. Bunga itu masih saja tersimpan di dalam sakunya.. entah bentuk apapun lagi bunga itu, tetap saja bunga itu masih terlihat utuh dan indah di mata Edward.

"Pak, Edward.. tidakkah sebaiknya bapak di operasi atau kemothrapy saja?? Kanker hati bapak, sudah stadium 3..". tanya seorang dokter pribadi Edward.
"Tidak perlu..". raut wajahnya serta bibirnya yang sudah keriput membentuk senyum.
"Kenapa, pak?? Bapak kan, kaya raya.. semua bisa bapak lakukan.. pasti bapak sembuh...!! Saya akan setia membantu bapak..". sambung George, pemuda berumuran 30 tahunan, tangan kanannya Edward.
"Jika memang waktuku sampai disini.. ya sudah.. saya ikhlas...". senyumnya lagi.
"Tapi pak, siapa yang akan mengurus perusahan-perusahaan bapak??". ujar George lagi.
"Kamu.. karena kamulah orang kepercayaanku selama ini... aku titipkan semuanya padamu, dan jagalah itu baik-baik, ya..". Edward yang tua , menepuk-nepuk bahu George.
"Tapi.. pak.. saya tak bisa menerima itu dengan mudah.. karena semua perusahaan itu, adalah hasil jerih payah pak Edward sendiri.. bagaimana bisa saya, mendapatkannya dengan begitu mudah??".
"Itu dia.. meski kamu mendapatnya dengan mudah, namun jagalah perusahaan-perusahaan saya, agar tak jatuh di tangan orang yang salah.. tenang saja, saya mempercayai kamu..".
Hati George terasa perih mendengar perkataan Edward, Boss kesayanganya. Ia sudah menganggap Edward seperti ayahnya sendiri.
"Sepertinya, anda harus beristirahat, pak.. ini sudah waktunya anda tidur..". ujar dokter itu, sambil memeriksa keadaan Edward. Edward kembali tersenyum, "Sakit sekali rasanya, dok..".
"Saya salut sama bapak.. sangat salut! di tengah penyakit bapak yang seperti ini, bapak masih mampu tersenyum..!".
"Hehe..". Edward yang renta menyegir, kemudian ia memandang ke langit yang tampak jelas dari jendela ruangan tempat ia dirawat.
"Selamat malam, pak Edward....". George dan Dokter berpamit lembut sebelum keluar dari ruangan.
Edward melambai pelan.

play this song ;')


Edward mengeluarkan bunga Edelweiss itu dari sakunya, memandanginya dan tersenyum ceria. Sampai ia akhirnya menutup matanya untuk selamanya dengan kedua tangan diatas perut, mendekap bunga Edelweiss itu.


Edward berdiri dan memandang tubuhnya yang tenang terbalut senyum. Seorang perempuan bercahaya terang, mengulurkan tangannya pada Edward. Edward menyambut hangat dan pergi menaiki tangga menuju kereta kencana dan menghilang di balutan langit malam.

Edward turun dari kereta kencananya, tubuhnya tak lagi tua. Ia sudah kembali muda seperti sedia kala. Kedua matanya langsung melihat sosok perempuan yang sangat tak asing baginya, Clarissa.. sedang melambai ke arahnya, yang sudah menunggu dengan setia di depan gerbang surga.
Edward langsung berlari sekencangnya, Clarissa juga berlari lalu bertemu di satu titik dan saling berpelukan erat. Edward mencium Clarissa, puas rasanya.. setelah berpuluh tahun, akhirnya ia menemukan kembali Clarissa.
"Ayo, sayang....". Clarissa mengulurkan tangannya. Edward menyambut erat, dan masuk bersama ke dalam rumah Bapa yang baka...



~End~

Edward Kevin Geraldo, yang kuat karena cinta dan semangat yang terlahir dari hatinya.
Ia selalu tersenyum padahal kanker yang menggerogoti tubuhnya, sangatlah menyakitkan. membuatnya berteriak-teriak sepanjang detik. Ia divonis kanker hati atau Siriosis, karena ia terlalu sibuk sehari-harinya, sehingga tak sempat untuk sarapan pagi, tidur terlalu larut malam dan sebagainya. Kekuatan cintanya pada Clarissalah yang membuatnya selalu bertahan disaat ia tak mampu, karena ia percaya Tuhan mengirimkan Clarissa sebagai malaikat yang tak terlihat namun abadi selamanya di hatinya. Sama seperti bunga Edelweiss, bunga keabadian sejati.
Itulah sepenggal kisah cinta yang sejati....

Cinta...
Jika anda memilikinya, anda tidak memerlukan sesuatu pun yang lain
Dan jika anda tidak memilikinya,apa pun yang lain yang anda miliki tidak banyak berarti

Cinta suci itu milik orang yang masih mempunyai harapan walaupun mereka telah dikecewakan.
Milik mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati.
Milik mereka yang masih mencintai, walaupun mereka telah disakiti.
Dan milik mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan bahwa cinta bukan untuk sementara tetapi untuk selamanya.


Hanya cinta yang bisa, menaklukkan dendam
Hanya kasih sayang tulus, yang mampu menyentuh
Hanya cinta yang bisa, mendamaikan benci
Hanya kasih sayang tulus yang mampu MENEMBUS RUANG dan WAKTU

Lewat cintalah semua yang tembaga akan jadi emas.
Lewat cintalah semua yang endapan akan jadi anggur murni.
Lewat cintalah semua kesedihan akan jadi obat.
Lewat cintalah si mati akan jadi hidup.
Lewat cintalah raja akan jadi budak.


rachelclaudyasitumoranggerrard.copyright.mac.2010.chelzco.Trace of Edelweiss.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar