Kamis, 29 Juli 2010

My Lil' Sunset Girl :) - My Short Story




"Apa aku menggangumu?". 
Sebuah suara yang sangat tak asing, terdengar menyapa dari arah belakang punggungku. Aku menoleh, seraya menyipitkan mata, seorang pria ber-jas rapi, bertubuh tegap memandangku.
"Junsuh, bukan??”.
“Ha? apa??". suaranya terdengar samar bersama desiran suara ombak.
"Kau Junsuh...??!!". pekiknya kuat.
"I..iyaa... kenapa?”.
Pria itu tersenyum lebar, “Apa kau masih mengingatku??". 
Aku menggaruk keningku. "Ha? siapa ya??". Aku menggaruk-garuk kepalaku.
       "Wah, kau benaran lupa ya? apa sekarang wajahku terlalu tampan sampai kau tak mengenaliku lagi? ha?". ucapnya sambil tertawa lebar. 
"Kau penagih listrik yang kemarin, bukan?". 
          "He?". muka pria itu berubah mengkerut. "Penagih listrik di daerahmu sekeren ini ya? hahahaa..! Ya sudah, sepertinya kau benaran lupa! Aku Sunjiu!". pria itu mengedipkan matanya dengan senyuman termanis. 
"Ha?! Kau...kau Sun..Sunjiu?? Ha? Sunjiu temanku sejak kecil itu?!
          "Iyaa..!". 
"SUNJIU si kutu buku?!!!".
"Iyaaaaaaaa, Junsuh!". Sunjiu tersenyum dan langsung duduk disampingku di tepi dermaga. Lalu dia membuka kedua tangannya lebar, "Tidak adakah pelukan?".
"Sinjiuuu...". aku langsung memeluknya erat. "Aku sangat merindukanmu....".
"Aku juga, itik jelek..". Sinjiu membalas pelukku dengan erat juga.
"Bolehkan aku duduk disini menemanimu?".
"Duduk saja, bodoh! Memangnya ini pantai milikku!". Aku menyambut hangat dan lelucon.
“Huh..!”. Ia mengacak rambutku.
Perasaan senang, takut berkecamuk di dalam hatiku. Hyun Sunjiu, seorang laki-laki yang sudah kutaksir sejak 15 tahun lalu. Tepatnya saat aku masih kelas 3 Sekolah dasar sampai detik ini. Sekarang aku sudah tamat dari fakultas psikologi, berkat beasiswa di salah satu universitas ternama di kota ini. Dia adalah sahabat masa kecilku. Rumah kami dulunya bersampingan. Sudah 8 tahun aku tak pernah berjumpa dengannya, dan sekarang Sunjiu yang dulu terlihat kutu buku, berubah menjadi sosok cowok yang gagah dan sangat tampan. Sampai aku hampir tak mengenalinya lagi. Kabar terakhir yang aku dengar tentangnya ialah, pertunangannya dengan kekasihnya yang seorang model terkenal. Membuatku selalu sedih setiap mengingat hal itu.
"Sedang apa sih disini? aku sering sekali memperhatikanmu, duduk di dermaga ini.. selalu, setiap menjelang senja..". Sunjiu memandangku.
"Ha? Sering memperhatikanku?! Benarkah......??!!". Jantungku berdegup kencang.
"Junsuh?".
"Ha? Ya, Jiu ??". Aku terkaget.
Sunjiu tertawa, "Kau melamunin apa? Aku tadi bicara, tidak di dengar ya?".
"Ha? Aduh, bukan......". Aku menyegir asam. 
Sunjiu tertawa renyah,"Kau ini ternyata tak berubah juga ya, tetap aja oneng!". Lanjutnya tertawa lagi. "Aku tadi menanyakan, kenapa kau sering sekali duduk di dermaga ini setiap senja?? Apakah karena waktu kita kecil, kita sering bermain disini??".
"Kau masih mengingatnya??”. kagetku.
“Iya dong, bagaimana aku bisa lupa.. aku kan menghabiskan masa kecilku disini..”.
“Dan satu lagi, karena disini rasanya tenang, teduh. Melihat matahari terbenam menandakan berakhirnya senja menuju malam hari, kemudian siap menyambut hari baru lagi.
"Haha.. Alasan yang cukup dalam...". Sunjiu menepuk-nepuk kepalaku lembut.
Aku menyegir kembali, "Hehe.. ya begitulah anak psikologi yang tak seberapa ini..".
" Haha... kau ini ! Hmm, Junsuh yang dulunya kumel sekarang sudah berubah feminim, ya?".
         "Benarkah? hehehe...". 
  "Iya, yang dulunya rambutnya selalu nge-bob sekarang terurai panjang, dulunya hitam sekarang putih! Dulu giginya masih gigi susu, sekarang udah besar dan berbaris rapi hahaha. Satu lagi, lesung pipimu itu, setiap kali kau tersenyum... membuat jantungku berdebar-debar kencang! Kau sangat cantik, Junsuh...". Sunjiu mengedipkan matanya sebelah. 
        "Ihh, apaaan sih!". aku mendorong pelan wajah Sunjiu yang terus memperhatikanku tanpa berkedip.  
       "Iya, cantik. kau cantik, Junsuh..". Sunjiu mengelus pipiku lembut dengan jemari-jemarinya.
        Wajahku hanya bersemu merah, sekarang Sunjiu benar-benar menjadi seorang pria.
"Haaah...". Sunjiu menarik nafasnya kuat lalu memalingkan wajahnya menatap ke arah pantai "Aku benar-benar merindukan dermaga ini, perkampungan ini.. semuanyaa!".
Aku memandanginya dari dengan kagum, "Kau juga benar-benar sangat tampan, Sunjiu! Tentu saja, hidupmu sudah bahagia sekarang...".batinku.
Kami mengobrol panjang tentang sekolah, perkuliahan kami, keluargaku dan lingkungan sekitar perkampungan kecil ini. Kerinduanku akan kehadirannya, sudah terpenuhi. Aku sangat senang sekali! sudah lama, aku menunggu kedatangannya kesini. Akhirnya, hari ini Tuhan menjawab doaku.
“Kau bawa apa, Jiu ? Ada makanan, tidak? Aku lapar..".
"Kau lapar? Tunggu, sebelum kita makan, hmmm... aku ingin memberimu sesuatu tapi tutup matamu, ya..?".
"Apaan?".
"Tutup sajalah, sampai aku kasih aba-aba , baru dibuka ..". Sunjiu mengedipkan satu matanya ke arahku.
"Oke...". Dengan rasa penasaran, aku pun menutup mataku, "Apaan sih, Jiu ?".
"Sabar..". Sunjiu mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. "Nah, sekarang.. buka matamu...".
Aku terdiam beberapa saat lalu terperanjat, "Oh, TUHAN!!!! Kau benar-benar belikan ini, untukku??". Aku sangat terkejut, melihat Sunjiu membelikan sebuah kalung berlian salib impianku, sejak aku kecil.
"Iya.. Indah kan??".
"Oh..". Aku hanya menutup mulutku dengan kedua tanganku. Aku benar benar merasa surprise. Airmata terharupun , mengepul dimataku.
"Hehe...". Sunjiu menggaruk-garuk kepalanya sambil nyegir. "Aku tak menyangka, kau sebahagia ini.. Mari , biar aku pasangkan di lehermu..".
Aku menyibak rambutku dan Sunjiu memasangnya di leherku. Kalung itu tampak semakin berkilau , dengan pantulan cahaya matahari senja yang akan segera tenggelam di seberang pantai.
"Nah, kau tampak lebih cantik sekarang.. kelihatan semakin feminim...". Puji Sunjiu sambil terus memandangiku.
Aku hanya tersenyum bahagia, melihat kalung itu kini tergantung di leherku. "Tapi, Jiu.. Dari mana kau tahu, kalau aku sangat menyukai kalung salib ini??".
"Hehe... Dari dulu aku sering melihatmu di pinggir jalan sedang memperhatikan kalung salib itu di sebuah toko mas.. Setiap kau pulang dari sekolah, pasti kau akan berdiri untuk beberapa saat, dan tersenyum sendirian.. Jadi , sejak aku sering melihatmu, memperhatikan kalung itu..".
"Hm.. pantas saja, ketika kalung itu sudah tak ada di toko itu lagi, aku sedih ... ternyata kau yang beli ya ? haha...".
"Ya.. Aku mengumpulkan uang jajanku selama dua tahun dan membelinya untukmu...". Sunjiu tersenyum lagi.
“Apa?! Dua tahun?!”. Akhirnya airmataku terjatuh, aku tak bisa berkata apapun.
"Sudah.. Jangan menangis!". Sunjiu langsung menarikku ke dalam pelukannya. Ia membelai kepalaku dan aku sangat.. sangat terkejut.
"Makasih ya, Jiu... Makasih sekali...".
Sunjiu mengangguk pelan. "Itu sudah ku simpan, sejak lama.. sebenarnya aku sudah menyimpannya sebelum kita tamat sekolah dasar, namun karena rencana pindah rumah yang mendadak hari itu, membuatku tak sempat memberikannya padamu..”.
“Benarkah?!”. Aku melepas pelukannya.
“Iya..”. Sunjiu kemudian melingkarkan tangannya di kedua lutut yang ditekuknya. “Bahkan mengucapkan salam perpisahan padamu saja, aku tak sempat...”.
“Iya.. aku sedih sekali waktu mengetahui kau sudah pergi dan tanpa pamit denganku.. aku berpikir takkan pernah bisa bertemu denganmu lagi.. aku selalu menunggu di dermaga ini, berharap kau mengejutkan aku seperti biasanya.. sudah 15 tahun aku merindukannya..”.
Sunjiu tersenyum, “Sekarang kau tak perlu sedih lagi, aku sudah disini dan takkan pergi lagi meninggalkanmu, tanpa pamit denganmu..”. Sunjiu tersenyum.
Oh ya, Junsuh, ada yang harus aku katakan padamu... Mungkin aku harus jujur sekarang, kita kan sudah sama –sama dewasa sekaranf. Sebenarnya aku sangat mencintaimu....". Sunjiu memandangku tanpa berkedip sedikitpun.
"Ha???". Jantungku berdegup kencang, rasanya rohku tak lagi di tempatnya. Aku berkeringat dingin, dan hawa sekitarku terasa panas.
Aku tertawa nyegir , "Ah.. Kau ini.. Bercandanya jangan yang begituan!".
Sunjiu menatap lekat-lekat mataku. "Mungkin terdengar sedikit konyol, tapi aku benar-benar mencintaimu sejak dulu...".
Aku terhenyak dalam pandangan matanya dan senjanya langit di pantai ini. "Ba.. Bagaimana kamu bisa mencintaiku??". Tanyaku gugup.
"Entahlah.. Aku sudah lupa bagaimana... Karena , aku sudah sangat lama mencintaimu... kaulah cinta pertamaku".
Angin pantai yang semilir berhembus lembut bersama kicauan burung-burung ditambah indahnya lukisan di langit, membuatku merasakan pantai ini terasa begitu indah. 
"Loh? jadi bagaimana dengan Hweyoon?? Bukankah ia tunanganmu??".
"Hweyoon?! Darimana kau tahu tentang dia??”. Sunjiu kaget.
“Hhh... bagaimana aku tidak tahu! Tunanganmu itu kan model terkenal! Setiap ada pemberitaan baru tentangnya, pasti langsung dimuat di tabloid!”.
Iya sih, statusnya memang tunanganku tapi untuk pemilik hatiku, bukanlah dia..".
"Ja..jadi??".


"Begini, kau tahu kan ibuku, pekerja kepercayaan di rumah seorang yang kaya raya? Nah, sewaktu mereka ingin pindah ke Amerika, mereka berniat mengajak ibuku. Ibuku sempat menolak, karena ia tak ingin pergi meninggalkan kampung ini, namun orang kaya itu terus membujuknya, hingga akhirnya kami pindah..
“Sebelumnya beberapa kali, aku pernah bermain di rumah orang kaya itu. Mereka memiliki seorang anak perempuan tunggal bernama Hweyoon, tunanganku sekarang. Aku berteman baik dengannya, hingga waktu aku pindah dan meninggalkanmu dialah temanku bermain, sampai aku tidak terlalu sedih lagi.
Setelah kami pindah, kami tinggal di rumah yang sama di Amerika, Cuma kamarku dan ibuku di paling belakang. Aku dikuliahkan satu kampus dengan Hweyoon di jurusan Bisnis. Aku sudah menolak, namun karena Hweyoon terus memaksa ibunya agar satu kuliah denganku, akhirnya mereka terus membujukku agar aku mau. Sampai aku dan Hweyoon begitu dekat, aku tak punya perasaan apapun untuknya, dia saja yang selalu menganggap lebih semuanya..”
Aku memandanginya dengan serius sambil sesekali mengangguk mengerti.
“Lalu, Aku dipaksa ibuku agar segera menikah dengan dia, namun aku menolak dan lebih memilih bertunangan dahulu. Aku tak mau buru-buru, karena aku tidak ada perasaan apapun dengannya. Namun akhirnya, aku menerima dengan terpaksa, karena keluarga Hweyoon sudah banyak membantu kami. Padahal aku tak pernah mencintainya sama sekali..". Sunjiu memandang lurus ke depan. "Hidupku memang pas-pas an , tapi aku masih punya harga diri!! Cinta itu tak bisa ditukar dengan harta apapun...!!!".
Aku diam memandanginya, di satu sisi, aku sangat bahagia sekali... bahwa Sunjiu juga mencintaiku.. tapi aku tetaplah terkejut mendengar pengakuannya.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang??".
"Entahlah...". ia menarik nafas panjang. "Kau tahu, aku ini sedang melarikan diri  dari dia sekarang. Aku pergi dari rapat kantor dan menemuimu disini. Karena dari dulu setiap sore hari kau pasti duduk di dermaga ini. Ya sudah, selagi ada kesempatan besar, aku lebih memilih kesini saja untuk menemuimu. Sudah lama aku ingin melakukakannya, namun selalu gagal!hhh...!”.
“Ha? Jadi kau melarikan diri?! Melarikan diri bagaimana?!”.
“Hweyoon itu sangat posesif sekali padaku, kemanapun dia pergi aku harus ada disampingnya. Sebenarnya ya Junsuh, aku sering kesini untuk memperhatikanmu. Itulah makanya aku tahu, kebiasaanmu tak juga berubah. Aku selalu melihatmu, dari dalam mobilku. Ingin sekali aku berlari memelukmu, namun aku tak bisa.. karena pengawal-pengawal Hweyoon sangatlah banyak. Aku hanya bisa menangis di dalam hatiku..”.
“Dan aku terus berpikir, bagaimana caranya agar lepas dari jangkauan Hweyoon.. dia itu perempuan gila! Mata-matanya ada dimana saja.. Mungkin pun sekarang dia sudah ada di sekitar sini, mengawasiku...".
"Ya... kau benar! aku disini , sayang!". seru seorang perempuan yang begitu cantik, gaunnya yang indah, melambai-lambai dihembuskan angin pantai. Terlihat airmatanya mengepul dan ia berdiri dengan melipat tangan di dada dan menatap aku sangat sinis.
"Hweyoon??". Sunjiu berdiri dengan cepat dan ia sangat terkejut. Aku juga ikutan berdiri karena tiba-tiba saja sosoknya sudah muncul di belakang kami.
"Kenapa? Kau terkejut?!! Inikah yang kau katakan, ingin membeli minuman di supermarket?? Supermarket berduaan di tepi pantai..? hah??!!".
"Terkejut?! Tidak terlalu juga, mungkin sekarang kau harus tahu yang sebenarnya ! aku tak pernah mencintaimu, Hweyoon! Aku adalah tipe orang yang mencintai sekali dalam seumur hidup! Karena itulah, aku tak pernah bisa mencintaimu. Aku sudah terlanjur memberikan hatiku pada Junsuh! Jika aku menyukainya dari awal, maka hal itu tidak salah, kan? Sejak saat aku memutuskan untuk bersamanya sejak kecil, aku menyukainya. Aku tak menyesali, sekalipun ia tak mencintaiku..".

"Ohhh.... Hahaha!". airmata Hweyoon terjatuh sembari tertawa kecil. Kemudian Ia langsung mengeluarkan sebuah pistol dari dalam tasnya dan langsung mengarahkan ke arah ku. Namun Sunjiu dengan sigap langsung mengelakkan tubuhku, aku tak bisa menjaga keseimbanganku dan terjatuh ke dalam air sedalam 8 meter.

Sunjiu mendekati Hweyoon dengan cepat lalu menahan pistol di tangan Hweyoon dengan kuat, dan mengarahkannya ke atas. "Berikan pistolnya padaku!!".
        "Tidaak!!". Hweyoon dan Sunjiu saling berebut pistol. 
"Lebih baik kau bunuh aku saja! Karena bagaimanapun aku takkan pernah mencintaimu!! tapi kalau kau sampai membunuh dia, aku akan berjanji membunuhmu kembali !!!!".
Mereka masih berebut pistol, lalu Hweyoon menatap mata Sunjiu dengan tajam. Nafasnya tersengal-sengal. "Daripada kau bersama yang lain, lebih baik kau mati di tanganku!!!!". pekik Hweyoon.
“Silahkan!!". Sunjiu mendorong tubuh Hweyoon kuat sampai terjatuh. "Bunuh saja aku, agar kau puas!!! Aku sudah lelah dengan semua perlakuanmu!!”.
"Kenapa kau sebodoh ini, Sunjiu?!!! Kenapa kau lebih menginginkan gadis miskin dan kumal itu!!! Aku jauh lebih baik daripada dia!! aku bisa belikan semua yang kau inginkan!!!".
"Kau pikir aku  hanya sekedar menginginkannya? Ini lebih dari itu. Dan asal kau tahu, bukan karena kau bisa belikan apapun yang aku mau, aku bisa dengan mudah mencintaimu!!!".

Sementara aku berjuang untuk tetap hidup di dalam air, karena aku tak bisa berenang. "Tolong aku Tuhan.... Sunjiu tolong aku...! Tempat ini begitu gelap, aku enggak sanggup lebih lama lagi....!". Aku meronta-ronta berusaha naik ke permukaan namun tetap tidak bisa. Kejadiannya terjadi sangat cepat, sampai aku tidak sempat mengambil nafas. Aku tenggelam ke dalam lautan yang dalam, gelap dan mengerikan. Saat aku berusaha mencapai permukaan, aku tersadar... ada sesuatu yang menahan kakiku, ternyata sudah terlilit oleh rumput di dasar air ini. "Sunjiu.....!!". teriakku dalam hati.

"Hah?! Junsuh?!". Sunjiu panik, Ia baru ingat kalau aku tak bisa berenang. Dengan segera ia melompat dan menolongku. Ia melepaskan kakiku yang terlilit rumput laut.
Hweyoon merasa sangat panas sekali melihat Sunjiu terjun ke air dan menolongku. Ia mengambil pistolnya lagi. Sesaat aku dan Sunjiu muncul di permukaan, Hweyoon langsung menarik pelatuknya lalu mengarahkan ke arah kami berdua. Aku pun menutup mata pasrah.
"Duaar..... duarr!!!". suara pistol itu terdengar nyaring selama dua kali. Aku merasa sesuatu yang sangat keras menembus kepalaku. Sunjiu tersenyum lebar memandangiku, kemudian dia memegang kedua tanganku dengan erat. Ternyata Sunjiu tertembak punggung atas sebalah kanannya.
Kami masuk bersama perlahan-lahan hingga ke dasar, dan air laut sudah banyak  tertelan masuk ke dalam paru-paru kami berdua.  Sunjiu memelukku erat.
“Junsuhh... tarik tali ini, ketika aku sudah siap melepaskan layangannya yah..!”.
“Iya..”.
“Satu..dua...tigaa....”.
Junsuh berlari sejauh-jauhnya untuk bisa menerbangkan layangan tersebut, namun akhirnya jatuh dan tak bisa terbang.
Junsuh tertunduk sedih, “Aku memang takkan bisa bermain layangan sepintarmu..”.
“Jangan sedih.. aku takkan lelah mengajarimu sampai kau bisa..”.
“Benarkah..?”.
“Ya..”. Sinjiu tersenyum lebar.

“Junsuh, sebaiknya kau beristirahat saja.. kau sudah dari tadi pagi, menjaga ikan-ikanmu disini.. biar aku yang menjaganya..”.
“Tidak, aku harus berjualan sampai waktu biasanya, Jiu..”.
“Sudahlah, aku saja ya.. kau mandi saja ddulu dan tidur .. nanti aku yang akan membereskan semuanya, ok?”. Sunjiu menedipkan satu matanya.
“Baiklah, terima kasih.. jiu..”. Junsuh menunduk hormat. Sunjiu mengangguk pelan.

“Heii.....!!!!!!!”. Sunjiu mengejutkan Junsuh yang sedang duduk di pinggir dermaga.
“Ahhh... Jiu! Kau mengagetkan aku saja!!”. Kesal Junsuh.
“Hehehe...!”. Sunjiu mengacak-acak rambut Junsuh. “Nih, aku bawakan biskuit.. “.
“Waah.. pas sekali.. aku juga sangat lapar!”. Junsuh kecil langsung melahapnya, Sinjiu tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Enak sekali.. dari mana kau mendapatkannya? Kau mencuri ya??”. Junsuh menatap dengan pandangan nakal ke arah Sinjiu.
“Enak saja! Ibuku yang membawanya.. dari rumah tempat ia bekerja..”.
“Hehe.. terima kasih ya.. enak loh..”. Junsuh tersenyum dengan lesung pipinya yang khas.


Semua rekaman masa kecil mereka terputar di benak masing-masing. Kemudian Sunjiu mendekat dan mengecup bibir Junsuh untuk pertama dan terakhir kalinya. Kini tangan mereka berdua saling berpegangan erat. Erat sampai selama-lamanya.

"Akhirnya, di tempat pertama kami bertemu, di tempat aku selalu setia menunggu.. disitulah ternyata tempat terakhirku kami untuk bersatu...."



Setelah pembunuhan yang Hyewoon lakukan , tanpa sengaja ia telah membunuh calon suaminya, yang sangat ia cintai itu. Selama di perjalanan pulang kembali ke hotel, Hyewoon terus menangisi kebodohannya, "Maafkan aku, Sunjiu.... maafkan aku......". Hyewoon meronta-meronta di dalam mobil.
Sesampainya ia di Hotel, ia langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menghidupkan shower. Ia duduk di bawah air yang mengalir deras sambil menangis sesenggukan, "Tak seharusnya aku menembak kalian... Tapi aku tak akan sanggup, jika melihat kalian bersama!! Aku sangat mencintaimu Sunjiu!! Kenapa kau tak pernah bisa membalas cintaku!!Kenapa selalu Junsuuuh......!!!!!". Hyewoon mengacak-acak rambutnya dan menghentak-hentakkan kakinya. "Pedih sekali rasanya.. aku bisa berada disisimu.. namun aku tak pernah berarti apa-apa untukmu....!". Hyewoon melihat pistol di dalam tasnya, akhirnya ia mengambilnya dan menembak ke kepalanya sendiri. 
"Waktu dan jarak yang terjauh, tidak akan pernah bisa mengalahkan kekuatan cinta" 
"Kau takkan pernah bisa memaksakan perasaan.. Jika kau memang benar-benar mencintai seseorang, ikhlaskanlah... Caramu mencintai itulah yang disebut cinta sejati..bukan tentang siapa yang kau cintai...." :) 
"Cinta pertamamu adalah cinta sejatimu..." (William Shakespeare)

THE END








  • http://www.facebook.com/notes/rachel-claudya-sylvia-situmorang/my-lilsunset-girl-/474419453237
    Written by : Rachel Situmorang
    RachelGerrardSitumorang.©Copyright.Mac.2010.Chelzco™.My Lil'Sunset Girl.

    Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar