Kamis, 23 Desember 2010

Goodbye.................


        Langit di pantai sore ini tampak mendung dan orang-orang sudah pada berpulangan. Para perseluncur sudah berbalik arah ke tepian, penjual-penjual makanan juga sudah menutup dagangannya. Namun sejak satu jam yang lalu, aku dan Carl masih diam membisu. Mungkin ini yang membuat orang sekitar,  melihat ke arah kami. Tak sedikipun kami beranjak, kami hanya memperhatikan yang berada di sekeliling kami. 


Aku menarik nafas dalam lalu membuangnya. Aku merasa inilah waktunya, dimana aku harus membicarakan semuanya dengan Carl. Aku memandanganya dan memberanikan membuka pembicaraan. 
"Carl....". 
"Ya..?". Carl membalas tatapan mataku. Jantungku berdegup semakin kencang.
"Boleh bertanya sesuatu??".
"Ya, sayang...".
Perasaanku semakin tidak enak dengan dia memanggilku seperti itu. Aku berdiri dan berjalan ke arah pantai dan merasakan sejuknya air membelai kedua kakiku. Aku mencoba sebiasa mungkin, padahal pikiranku sudah galau. Carl berjalan mendekatiku dan melihatku dari balik punggung.
"Carl, kenapa kamu bisa sayang sama aku? Aku kan tidak cantik, tidak punya suara bagus, tidak kaya...! Dan Kenapa juga kamu masih sangat mencintaiku, Carl?! Padahal aku sudah begitu jahat padamu? Seharusnya kamu membenciku saja..!! Aku itu jahat!! Aku bukan siapa-siapa di dunia ini....". Aku diam memperhatikan lautan dengan suara desiran ombak, angin semilir meniup helaian rambut dan bajuku.
"Naya sayang..". Carl mendekatiku, dan menghadapkan wajahku, ke hadapannya. "Aku  tida butuh alasan apapun untuk dapat mencintaimu... lagian aku sudah mengenal kamu sejak lama! Kamu ga jahat! Dan kamu ga seperti yang kamu katakan. Aku tau, kamu tak hanya sekedar memiliki wajah yang cantik... Tapi kamu juga memiliki hati yang baik.. Itu sebabnya aku tak pernah bisa untuk berhenti mencintaimu. Sekalipun aku harus tak lagi sisimu, itu bukan karena aku berhenti mencintaimu. Itu tidak akan pernah terjadi. Namun karena aku mau belajar hidup tanpamu....". Ujar Carl seraya memegang dan memandangi wajah Naya

Airmataku mengepul di kedua sudut mata. Aku memandangi wajah dan pandangan matanya yang tulus. "Kenapa kau begitu baik, Carl?? Dan kenapa sampai sekarang, kenapa aku belum bisa mencintaimu seutuhnya! Kenapa aku terlalu bodoh???? Kenapa aku tak bisa belajar mencintai orang yang begitu mencintaiku, apa adanya aku.. Bukan karena ada apanya.".
"Tidak perlu menangis..". Carl menghapus airmataku yang terjatuh di pipi. "Airmatamu terlalu berharga jatuh untuk seseorang sepertiku, Naya. Sekarang aku siap kok , kalau kamu memang tak ingin bersamaku lagi..".
Carl suaranya yang mulai parau menahan tangis, lalu ia menggengam tanganku dan diletakkan di dadanya, "Kalau memang kamu mencintai Nevan, pergilah dengannya. Aku rela, asal kamu bisa bahagia". Carl berusaha menahan airmatanya agar tak terjatuh, dia memandang ke arah langit dan berbalik punggung dariku.
Langit bergemuruh, angin berhembus kencang. Tidak lama kemudian, titik-titik air hujan mulai jatuh, menyentuh di atas kulit.

"Carl, sudah hujan! Ayo menepi!". Aku menarik tangan Carl, mengajaknya ke lesehan-lesehan kecil yang berada di pinggir pantai untuk berteduh.
"Tidak, naya. Aku ingin disini...". Carl melepas tanganku lembut. Aku diam menatapi Carl dari belakang.
"Pergilah...".Carl menarik nafasnya dalam. "Menikahlah dengan Nevan.. Aku sudah mengihklaskan kamu, sebenarnya tidak semudah itu, tapi ya sudahlah... Sampaikan salamku untuknya, ya..". Sekuat apapun Carl menahan airmatanya, akhirnya terjatuh bersamaan dengan hujan deras yang turun. Ia menangis terisak.
Aku dan Carl sama-sama menangis, tapi mungkin kepedihan yang dirasakan Carl jauh lebih dalam. 

"Nay...". panggilnya sebelum aku berbalik langkah. Aku terdiam dan menunggunya berbicara lagi. Ia masih diam memunggungiku.
"Bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya? karena kalau aku memelukmu disaat kau sudah bersuami, aku bisa masuk kantor polisi...hahaha..". Carl tertawa tapi airmatanya masih mengalir.
Aku berjalan ke hadapannya, ia langsung memelukku erat, Erat sekali. Ia menangis sejadinya, "Oh, Tuhan...!". lirihnya. Hatiku semakin sedih melihat Carl, "Apa yang telah aku lakukan!". seruku dalam hati.
"Wanita yang sangat aku cintai, sekarang harus aku relakan pergi... harus disinikah semuanya, Tuhan ?? Perih sekali Naya rasanya...... lebih baik kau membunuhku sekarang daripada aku harus melihat kau menikah dengan orang lain.....". Batin Carl. 
Tidak peduli sudah sebasah kuyup apapun, ia masih memelukku erat. Kemudian Carl melepas pelukannya, "Pergilah Naya... aku udah merelakan semuanya.. jaga dirimu baik-baik ya.. dan ingat, kalau Nevan sampai menyakitimu, dia akan berhadapan denganku!". Carl tertawa dan menyolek hidungku. Aku hanya diam membodoh melihat tampangnya.. berusaha tetap tersenyum. "Sudah.... jangan menatapku seperti itu... hari sudah hampir malam, oh ya, maaf kamu jadi basah kuyup. hehe.. pergilah pulang dan langsung mandi ya...". Ia membelai lembut rambutku.


Aku mengangguk pelan dan langsung berbalik arah. "Maafkan aku, Carl.. Sebenarnya tidak maksudku untuk menyakitimu sejak awal.. Aku tidak akan pernah melupakannmu sepanjang hidupku.. Kau orang yang benar-benar tulus! Aku bersyukur pernah dipertemukan dengan orang sepertimu... Selamat tinggal, Carl! Semoga kau dapatkan yang terbaik! Lebih dari aku, seorang wanita yang hanya bisa menyakitimu...". 

Carl diam menatap lautan yang sudah terbalutkan gelapnya malam. Carl menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya. "Tuhan..... meski kepedihan yang kurasakan sekarang ini sangat menyakitkan.. Tapi aku akan berusaha ikhlas merelakannya dengan Nevan.. Terma kasih , karena Engkau pernah mempertemukan aku dengan Naya.. Aku bersyukur pernah memilikinya... Walaupun singkat, namun aku Pernah merasakan arti sebuah cinta dan pengorbanan.. Semoga kau bahagia selamanya, Naya. I LOVEEEE YOOUUUUU , NAYAAAAAAA.....!!". teriak Carl sekuat-kuatnya ke arah lautan.

Tak lama setelah berpisah dengan Carl, aku akhirnya tetap memutuskan menikah dengan Nevan. Nevan itu orangnya sama baiknya dengan Carl, hanya bedanya, aku dan Nevan saling mencintai. Tiga hari sebelum pernikahan, aku menyebarkan undangan, termasuk Carl. Aku tak tahu lagi, apakah tindakanku salah atau benar menunjukkan undangan ini untuknya.

Sabtu pagi ini, adalah hari pernikahanku. Jujur, aku bahagia sekali. Tubuhku terbalutkan gaun putih mewah yang terurai sampai ke lantai, Aku terlihat sangat berbeda dari biasanya. Nevan juga mengenakan jas putih, dia terlihat sangat tampan. Aku masuk bersama ayahku, sampai ke depan altar, Diiringi lagu wedding march. Nevan tersenyum menyambutku, tangannya diulurkan, aku pun menyambutnya dengan anggun.


Pastur tersenyum ke arah kami, Kami pun saling mengikrarkan janji di hadapan Tuhan. Kami bertukar cincin, setelah. Itu ia mencium tangan dan keningku. Sungguh hari yang membahagiakan buatku. Walaupun di satu sisi aku tetap merasa sedih karena telah menyakiti Carl.


Seusai acara pemberkatan, aku mencari-cari Carl diantara kerumunan tamu-tamu yang berjubel. "Mungkin,  Carl benar-benar ga datang! Lagian aku bodoh banget! Mana mungkin dia mau melihat ini semua!". Lirihku dalam hati.
"Kenapa sayang? Ada yang kurang?". Tanya Nevan yang bingung melihatku celingak-celinguk.
"Ha? Gak.. Gak ada kok". Jawabku seraya tersenyum.
"Oh... Ya udah, aku kesana dulu ya, orang Hansen udah pada datang. Kalo ada perlu, panggil aja ya sayang...". Nevan tersenyum sembari membelai lembut kepalaku. "Iya...". Aku tersenyum.

Carl menjatuhkan airmatanya lagi, Ia tak sanggup berdiri dan menyalam, untuk mengucapkan selamat bahagia pada Naya. Carl hadir disana sejak tadi bahkan sejak gereja sudah dibuka, namun ia langsung menutupi wajahnya dengan topi jaketnya yang besar, saat Naya melihat ke sekelilingnya.

"Kau terlihat begitu sempurna , Naya.... Senyuman itu terus memancar dari wajahmu.... Sekarang aku bahagia, nay! Aku bahagia..... karena aku berhasil membuatmu bahagia, meskipun bukan denganku.....". Airmata Carl terjatuh. " Di hari pernikahan ini, kalianlah yang paling berbahagia, tapi bagiku.. hari ini adalah kepedihan yang begitu menyakitkan..! Hari inilah aku harus melepaskan semuanya.... Seharusnya akulah yang menggandeng tanganmu di altar itu, seharusnya aku yang bersumpah di depan Tuhan, seharusnya bukan aku yang duduk di kursi tamu ini... Tapi apa dayaku, jika kau lebih memilih dirinya dibandingkan aku. Nevan memang pasangan yang tepat untukmu.. Selamat berbahagia untukmu.. Mungkin kau takkan melihatku lagi nay, karena aku akan pergi jauh dari kota ini. Aku akan belajar bernafas dan hidup tanpamu lagi...". Carl melepaskan seuntai kalung emas putih, berliontinkan huruf N di bangku gereja itu yang sedari tadi di genggamnya dan buru-buru menyelip keluar dari antara kerumunan orang-orang.

Kemudian aku dan Nevan serta seluruh keluarga berfoto di depan gereja "Cheeeseee........!!!". Seru sang photografer kepada pengantin dan keluarga. Semuanya berlompat dan berteriak, "Cheeeessee.......!!". 



to be continued...

rachelsitumorang.©Copyright.Mac.2010. Chelzco Entertaiment. my Short Story

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar