Minggu, 29 Mei 2011

Memilih dan menanti



Ketika kau disuruh memilih dan diantara pilihanmu itu adalah orang-orang yang butuhkan dalam hidup, siapa yang akan terpilih ?

Ketika sang pelangi kehilangan warnanya,
Langit tak lagi biru,
Awan berubah menjadi rintikan air yang tak pernah berhenti
Bumi penuh dengan air, terdekam dalam kesenyapan...
datanglah segerombolan monyet-monyet

Kau harus memilih... jika kau memilih satu, maka kau harus kehilangan semua sisanya. Kau tentu tak bisa mendua hati.  Sama sepertiku, apa jika aku telah memilih satu... SUDAH PASTIKAH DIA MEMBAHAGIAKAN ku? atau aku akan menyesali pilihanku sendiri?

Diantara air-air menggenang,
Anak-anak kecil itu berlari dengan ceria
Hujan rintik dan tajam, tak dipedulikan oleh mereka
yang mereka tahu, adalah bahagia

dan di ujung keputusanku untuk memilih satu yang terpilih, AKU harus bersedia MENANTI dia untuk waktu yang tak bisa aku tentukan.... apa aku bisa? aku saja tidak bisa menjawabnya. Memang sih, dia mengatakan bahwa wanita itu tugasnya Menanti. Tapi kalau terlalu lama, enggak betul juga. karena dia juga bilang, selain menanti, tugas wanita itu Memilih.

Ditengah dinginnya air hujan,
anak-anak kecil yang tak berbaju itu masih tetap berlari
hembusan angin bertiup kencang, gadis kecil itu tersandung kubangan
.............. dia terjatuh lalu menangis.
Teman-temannya berbalik dan membantunya berdiri, "Jatuh memang sakit, jangan menangis".

Apapun bahasa yang terucap atau tidak, aku memutuskan memilih dia dan menanti. Entah sampai kapan, mungkin hanya untuk melihat siapa yang tidak setia, siapa yang menjauh. 
Yaa, Jika sudah terjatuh, maka harus tahan sakitnya. 


☰ intinya enggak nyambung 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar